Kamis, 03 Juni 2010

KONSEP HERMENEUTIKA

KONSEP HERMENEUTIKA MENURUT HEIDEGGER (1889 -1976) Dan GADAMER (1900 -2002)
Pedahuluan:
Hermeneutika adalah ilmu penafsiran yang berasal dari warisan mitologi Yunani. Ia kemudian di adopsi oleh orang-orang Kristen untuk mengatasi persoalan yang dihadapi teks Bible. Dalam tradisi intelektual Barat ilmu ini berkembang menjadi aliran filsafat. Sebagai sebuah ilmu ia berkembang menurut latar belakang budaya, pandangan hidup, politik, eknomi dan lain-lain. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu yang lahir dengan latar belakang pandangan hidup Yunani, Kristen dan Barat. Makalah ini akan membuktikan bahwa hermeneutika hermeneutika adalah ilmu yang merupakan produk dari pandangan hidup dan peradaban tersebut.
1. Latar Sejarah Hermeneutik
Istilah hermeneutik (hermeneutic) populer disebut sebagai seni takwil. Kata ini merupakan derivasi dari kata verba Yunani (hermeneuien) yang bermakna “menakwilkan”. Hermenia berarti takwil dan galibnya istilah ini digunakan pada hal yang bertautan dengan takwil teks-teks suci. Plato menyebut para pujangga dan penyair sebagai interpreter dan penafsir (hermenes) para dewa.
Hermeneutik merupakan sebuah disiplin ilmu yang sangat kuno. Hermeneutik atau seni takwil memiliki akar pada keyakinan pada kesucian teks. Dengan mengikuti bahasa Ibrani, redaksi "ahli kitab" pada kebanyakan bahasa bermakna "ahli iman" dan kesucian teks ini merupakan warisan dari para nabi, pembesar agama, filosof, pengajar akhlak yang memuat makna-makna tertimbun dan terpendam. Tanpa menggunakan metode takwil, maka-makna yang terpendam dan tertimbun ini tidak akan pernah terungkap dan tersingkap. Namun dalam menyingkap batin dan kedalaman teks dan ucapan ini terkadang dilakukan melalui jalan berimaginasi pada ilmu perbintangan klasik, yaitu dengan jalan menyesuaikan teks-teks dan ucapan tersebut dengan bentuk-bentuk bintang. Terkadang penyingkapan ini dilakukan dengan jalan filsafat dan teologi. Dan terkadang juga dengan metode hermes yaitu melalui jalan takwil dimana jalan ini memiliki akar pada pemikiran hermenia dan hermeneutik. Redaksi hermenia atau ilmu hermenuetik bersumber dari Nabi Hermes. Konon, Socrates dalam dialognya dengan Cratlyus menyebut Plato sebagai penyambung lidah, ucapan dan seorang penakwil.
2. Tokoh-tokoh Hermeneutik
Menurut Palmer (2005), Sumaryono (1999), dan Rahardjo (2007), beberapa tokoh yang mempunyai peran besar dalam perkembangan hermeneutika, ya itu pertama Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768 -1834), tokoh hermeneutika roman tisis, ia yang memperluas pemahaman hermeneutika dari sekedar kajian teologi(teks bible) menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Menurut perspektif tokoh ini, dalam upaya memahami wacana ada unsur penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis, dan konteks kultural. Kedua, Wilhelm Dilthey (1833 -1911), tokoh hermeneutika metodis, berpendapat bahwa proses pemahaman ber -mula dari pengalaman, kemudian men gekspresikan -nya. Pengalaman hidup manusia merupakan sebuah neksus struktural yang mempertahankan masa lalu sebagai sebuah kehadiran masa kini. Ketiga, Edmund Husserl (1889 -1938), tokoh hermeneutika feno menologis, menyebutkan bahwa proses pemahaman yang benar harus mampu membebaskan diri dari prasangka, dengan membiarkan teks berbicara sendiri. Oleh sebab itu, menafsirkan sebuah teks berarti secara metodologis mengisolasikan teks dari semua hal yang tidak ada hubungannya, termasuk bias -bias subjek penafs ir dan membiarkannya mengomunikasikan maknanya sendiri pada subjek. Keempat, Martin Heidegger (1889 -1976), tokoh hermeneutika dialektis, menjelaskan tentang pemahaman sebagai sesuatu yang muncul dan sudah ada mendahului kognisi. Oleh sebab itu, pembacaan atau penafsiran selalu me rupakan pembacaan ulang atau penafsiran ulang. Kelima, Hans -Georg Gadamer (1900 -2002), tokoh hermeneutika dialogis, bagi nya pemahaman yang benar adalah pema -haman yang mengarah pada tingkat onto logis, bukan metodologis. Artinya , kebenar -an dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengaju -kan banyak pertanyaan. Dengan demikian, bahasa menjadi medium sangat penting bagi terjadinya dialog. Keenam, Jurgen Habermas (1929), tokoh hermeneutika kritis, menye butkan bahwa pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan sosial yang melibatkan kepentingan kekuasaan interpreter. Setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias dan unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial, suku, dan gender. Ketujuh Paul Ricoeur (1913) yang membedakan interpretasi teks tertulis dan percakapan. Makna tidak hanya diambil menurut pandangan hidup pengarang, tetapi juga menurut pengertian pandangan hidup dari pembacanya. Kedelapan, Jacques Derrid a (1930), tokoh hermenutika dekonstruksionis, mengingatkan bahwa setiap upaya menemukan makna selalu menyelipkan tuntutan bagi upaya membangun relasi sederhana antara petanda dan penanda. Makna teks selalu mengalami perubahan tergantung konteks dan pembacanya.

3. Pemikiran Hermeneutik menurut Martin Heidegger (1889 -1976)
Setelah pembaca mengetahui semua tokoh-tokoh hermeneutik, dalam hal ini kita akan membahas tentang salah satu tokoh hermeneutik yang bernama Martin Heidegger (1889 -1976) yang mempunyai konsep bagai mana mencari sebuah metode yang melampui dan menjadi konsepsi beink barat, dimana dapat memungkinkan memperoleh gambaran prasumsi dimana orang-orang barat tersebut berpijak. Dalam historisitas dan temporalitas Heidegger melihat petunjuk kearah hakekat keberadaan, yang mana mengungkap dirinya sendiri dalam pengalaman hidup terbebaskan dari konstektualisasi, spasialisasi, dan kategori-kategori a-temporal dari pemikiran yang berpusat pada gagasan.
pandangan Heidegger yang mengatakan hermeunetika sebagai renungan di segala kondisi pemahaman. Filsafat Martin Heidegger (1889-1973) sangat berpengaruh dalam permasalahan epistimologi dan humaniora. Sebagaimana analisa Heidegger tentang fore structure of understanding yang menarik perhatian, adalah sebuah permasalahan yang mana dapat dimengerti, bahwa seluruh manusia menemukan dirinya di dunia ini melalui asumsi-asumsi pemahaman. Pengertiannya adalah, asumsi, harapan dan konsep (mafhum), dipaparkan pra-berfikir atas eksperimen. Dan semua itu, adalah yang membentuk horizon dalam segala bentuk pemahaman. Analisa kehidupan sehari-hari membuktikan, bahwa sesuatu yang dapat dipahami merupakan akibat dari sederet faktor terselubung dan tidak diketahui yang didapatkannya sebelum berfikir atau pra-berfikir. Dapat dikatakan bahwa tafsir menuntut sebuah asumsi.
Setiap interpretasi, termasuk ilmu biologi, membutuhkan asumsi. Sebelum masuk pada kajian ilmu geodesi, ketika aku melihat batu adalah sebagai batu, bukan sesuatu yang lain. Bahkan sebelum masuk pada kajian tafsir sanad (mata rantai perawi hadis), bahwa aku melihat sanad sebagai sanad, bukan sesuatu yang lain. Oleh karena itu, langkah awal setiap penafsiran, selalu ada terlebih dahulu sederet asumsi atas segala bentuk eksperimen universal. Heidegger menyebut kondisi ini dengan sebutan “hermeneutical situation”. Pengertiannya adalah eksistensi manusia memiliki struktur hermeneutika, sebagai sarana segala bentuk interpretasi kondisi seseorang yang dibebani oleh sederet asumsi.
Heidegger juga meyakini, bahwa penafsiran De Sain dan eksistensi universal berkonsekuensi pada penafsiran matan atau teks. Karena secara prinsip, De Sain senantiasa memahami dan menafsirkan. De Sain menafsirkan dunia dan diri, yakni memandang kehidupannya dengan metode khusus. Secara implisit, De Sain menafsirkan buruk dalam kehidupan setiap harinya dengan metode yang jelas dalam filsafatnya. Bahwa sangat niscaya, melihat diri sebagai hewan yang berakal, atau substansi yang berfikir, atau sebagai mesin. Setelah De Sain menafsirkan buruk tentang diri. Kita harus membedakan ruangan-ruangan salah penafsiran, sehingga masih melihat De Sain sebagaimana adanya. Ini adalah sederet salah penafsiran dalam pandangan filosof-filosof, seperti Aristotheles, Descartes, dan Kant. Kita harus benar-benar mengkaji kajian-kajian mereka, sehingga dapat menilai dimana yang benar dan dimana yang salah, dan juga dapat menjustifikasi pengaruh mereka di dunia wacana hermeneutika ini. Dan akhirnya pada waktu yang tepat, kita dapat melepas dari pengaruh-pengaruh mereka.
Heidegger juga meyakini, bahwa tidak ada makna absolut dan tunggal yang terlepas dari penggunaannya. Makna melalui hubungan yang kontradiktif, yang mana akan membentuk dunia kita yang terkait erat dengan kata-kata. Sebagai contoh, bahwa palu bukan hanya sekedar fasilitas untuk memukul. Bahwa makna kata ini terdiri dari meja kerja, paku, kayu, pabrik-pabrik, pembeli-pembeli, dimana membentuk dunia seorang pekerja industri. Makna kata tersebut telah bersandarkan pada dunia pengguna kata tersebut. Aristotheles tidak mempunyai makna transformasi, kebebasan, pengajaran dan pendidikan seperti makna yang dikaji ini. Karena dia hidup dengan dunia yang berbeda dari kita. Untuk memahami teksnya harus memperdalam peradaban dan tata bahasa yang lebih tinggi, dan merekonstruksi dunia penulis dan fasilitas-fasilitasnya. Dalam menjawab pertanyaan, “Apakah kita dapat menafsirkan matan dengan keputusan yang pasti?” Heidegger tidak menjawab dengan jelas. Penafsiran klasik seseorang tergantung dengan kondisi hermeneutika seseorang, dan juga dapat berubah dengan pendapat yang akan datang.
4. Pemikiran Hermeneutik menurut Hans-Georg Gadamer (1900 -2002)
Pemikiran hermeneutiknya tidak bisa dilepas dari pemikiran Hadger senior dan gurunya, yang pemikirannya terkenal dengan fenomenologi dasein. Dalam pandangan gadamer ada 4 faktor yang terlibat dalam suatu proses interpretasi yaitu:
a. Bildung yakni pembentukan jalan pikiran (bentuk atau jalan pikiran mengalir secara harmonis)
b. Sensus jumunis dalam istilah Gadamer juga disebut dengan pendapat umum
c. Pertimbangan, yaitu menggolongkan hal-hal yang khusus atas dasar pandangan universal.
d. Taste atau selera, yaitu sikap subjektif yang berhubungan dengan macam-macam rasa.
Keempat hal tersebut merupakan unsure yang selalu ada dalam setiap proses interpretasi. Karenanya Gadamer melihat hermeneutic bukan sebagai metode yang menekankan proses mekanis. Tetapi lebih sebagai seni.
Kesimpulan :
Gadamer menegaskan makna bukanlah dihasilkan oleh interioritas individu tetapi dari wawasan-wawasan sejarah yang saling terkait yang mengkondisikan pengalaman individu. Menggunakan metode untuk menetapkan kebenaran dalam niat orang yang lain bukan menggiring kepada kebenaran, tetapi semakin menjauhkan. Sebabnya, metode tersebut mengharuskan kita untuk menjadikan fihak lain sebagai objek dan mengabaikan keterlibatan dengan klaim kebenaran yang mereka buat.
Hermeneutika Gadamer mengimplikasikan bahwa penafsiran akan selalu terbuka karena wawasan pemahaman tidaklah tetap, tetapi berubah untuk meraih persamaan paham. Dalam pandangan Gadamer, kesamaan pendapat dan pemahaman bermakna ilmu pengetahuan. Hal ini tentunya tidak tepat karena meleburnya wawasan (the fusion of horizons) tidak identik dengan kebenaran. Penafsiran terhadap al-Qur’an yang dicampurkan dengan penafsiran tradisi (kesadaran sosial) yang akan menghasilkan misalnya, berbagai warna Islam, seperti Islam Kejawen, Islam Indonesia, Islam Demokrasi, Islam Moderat, tidaklah sesuai dengan pandangan-alam Islam. (Islamic worldview).
Dari uraian di atas kami simpulkan bahwasanya hermeneutik sebagai produk dan pandangan hidup barat. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Gadamer yang berguru kepada Haidegger.





REFERENSI :
http://www.al-shia.org/html/id/39.html
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Hermeneutika.pdf
Palmer, Richard, E, Hermeneutika teori baru mengenai implementasi, (Pustaka Pelajar), Jogyakarta November 2005
http://islamalternatif.net/id/article.php?story=20050812001306376&query=this
Muslih, muhamad, Filsafat Ilmu, (Belukar), cetakan ke 5, Yogyakarta Agustus 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar